Mungkin ada yang bertanya, kenapa kursus ini dinamakan ”Tokyo Golf Course” ? Sebagai pengelola sekaligus instruktur, saya memang pernah cukup lama tinggal di Jepang, yaitu dari tahun 1996 sampai tahun 2001. Di negeri sakura ini, saya bertugas di KBRI Tokyo, sebagai Atase Penerangan Waktu itu, olahraga yang saya geluti adalah bulutangkis.
Selain itu, saya juga diajak teman-teman untuk ikut olahraga tennis. Olahraga inipun akhirnya saya ikuti, dan latihannya biasa dilakukan Sabtu pagi di Hall Indoor Gotanda, sedangkan bulutangkis setiap Minggu sore di Hall Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Namun akhirnya, olahraga tennis ini juga jarang ikut, karena kendala kesibukan.
Suatu ketika, dalam kesibukan saya bekerja, ada wartawan Jepang berkunjung ke kantor saya. Memang waktu itu, salah satu tugas saya melayani para wartawan setempat maupun asing yang akan berkunjung ke Indonesia. Nah, disela-sela pembicaraan saya dengan dia, tidak diduga, tiba-tiba dia berkata, ”Kusman-san, suka olahraga ?” ”Hai,” jawab saya. ”Olahraganya apa ?” lanjutnya. Saya jawab, ”Bulu Tangkis dan Tennis”. Lalu ia bertanya lagi, ”Apa Kusman-san tidak main golf” ? Saya jawab, ”Saya tidak main golf.” Orang Jepang itu berkata lagi, ”Oh, nanti belajar ya, belajar gorufu”. ”Kalau sudah bisa, nanti main dengan saya”, lanjutnya lagi.
Orang Jepang, menyebut golf dengan ungkapan ”Gorufu”. ”Mac Donald jadi Macku Donaldo. Buah Alvukat menjadi Avokado”. Demikian juga kalau memanggil nama orang selalu ditambah dengan kata ”san” dibelakang namanya. Seperti ”Kusman-san”, ”Fauzi-san” Boony-san”, dan seterusnya. Di Jepang, tidak sopan jika kita memanggil nama orang tanpa sebutan ”san” (bacanya : Sang), karena dengan menggunakan ”san” ada penghormatan. Begitulah tatanan pergaulan yang telah dikembangkan dalam sebuah negara yang menjunjung tinggi peradaban.
Baik saya lanjutkan. Rupanya, ajakan Tamu Jepang itu disambut teman saya. Katanya, ”Ok! Jangan khawatir, nanti Kusman-san, saya ajarin main golf”. ”Bagus-bagus”, kata tamu Jepang itu. Sejak itu, atasan, maupun teman saya, terus mendorong, agar saya ikut belajar main golf. Jawaban saya waktu itu sebatas, ”Aduh maaf, saya tidak bisa, dan saya tidak suka main golf”. Saya bilang begitu, malah mereka menimpali, ”Kalau soal itu sih, dulu juga kami tidak bisa dan tidak suka”. ”Nanti, kita ajarin, jangan khawatir”, katanya.
Dengan dorongan kuat dari berbagai pihak, termasuk atasan saya, akhirnya saya menyerah juga. Oleh mereka, saya diajak ke Golf Shop di Okachimachi. Okachimachi adalah sebuah pasar tradisional (kalau di kita orang bilang ”pasar becek”) yang menjual berbagai macam kebutuhan mulai dari iakan asin, ikan basah laut, daging, sayuran, bumbu masak, eletronik, peralatan listrik, sampai ke stick golf. Bayangkan, di pasar seperti itu berjejer golf shop baik yang menjual stick golf baru maupun yang second. Yang membuat saya kagum, pasar ini tertata rapih dan bersih. Jadi yang namanya pasar becek di Jepang, pasarnya begitu tertib, rapih, dan bersih. Di tempat ini, saya dicarikan stick golf yang cocok untuk pemula. Begitulah, cara mereka mendorong dan menggembirakan hati saya.
Sejak itulah, saya terus berlatih, siang maupun malam. Setelah bisa, setiap hari Sabtu, hari libur, saya selalu diajak bergabung main golf. Boleh dibilang, ”Tiada Libur Tanpa Golf”. Di Jepang, begitu banyak lapangan golf atau Golf Country Club. Dan Golf Country Club yang sering dikunjungi adalah Azalea Country Club. Selain itu, ada juga lapangan golf yang sering saya kunjungi adalah Dynasty Country Club, yaitu lapangan golf 12 Hole, yang letaknya tidak jauh dari bandara internasional Narita. Bahkan, sering juga saya main di Shirogane, yaitu sebuah lapangan golf 9 hole pinggir sungai yang letaknya di pinggiran kota Tokyo. Mungkin ini satu-satunya di Jepang, lapangan golf tanpa club house, apalagi kantin atau restoran, kecuali kios rokok dan minuman.
Begitu banyak memang, kenangan bermain golf di Jepang. Rasanya terlalu panjang kalau harus dituliskan di sini. Karena itu, untuk mengenang dan menjaga silaturahmi sesama teman, baik yang ada di Jepang maupun di Indonesia, khususnya mereka yang mendorong saya belajar golf hingga bisa, saya berfikir, rasanya tidak ada salahnya, kursus ini saya beri nama ”Tokyo Golf Course”. Begitulah. ” Gambate, ne ”. *****

Leave a comment
Comments feed for this article